Terlahir seorang pemenang dari berjuta-juta calon pemenang
Tak dapat memilih apa yang akan tersimpan dalam diri
Ketika semua tlah membentuk menjadi padu
Hanya tuhan yang tau
Bukan salahku dan bukan salahnya, tapi ini adanya
Kepada siapa seharusnya bertanya?
Aku adalah seseorang yang mungkin sangat sedikit memiliki pemikiran yang sama dengan kebanyakan orang yang sebaya denganku, itu bukan karna aku bodoh, tetapi aku lebih memilih diam dan mengikuti arus perkembangan orang-orang disekitarku dengan mulut tertutup, dan akupun bukanlah orang yang acuh terhadap dunia nyata, aku mengikuti semuanya tetapi dengan keadaan yang mungkin orang akan tidak mempercayai bahwa aku sama dengan mereka.
Sejak aku berumur 5 tahun aku sudah berfikir bahwa aku hidup untuk diriku sendiri, apapun yang terjadi itulah aku, aku tak pernah memikirkan orang lain didalam otakku, karna setiap sesuatu yang kulakukan takpernah kutujukan kepada orang lain. Ayahku adalah seorang guru sekolah dasar yang merintis karirnya dari nol, dia orang yang sangat ambisius terhadap apa yang dia kerjakan, yang anehnya dia selalu menuntut aku menjadi lebih dari dirinya, menuntut dengan kedisiplinannya, bukankah semua orang berbeda? Jikalau aku terlahir sebagai anak seorang ilmuan dan apakah aku harus sepintar ayahku yang seorang ilmuan?, selalu itu saja yang aku fikirkan ketika ayahku mendebatkan tentang prestasi akademikku.
Aku mencicipi bangku sekolah dasar saat aku berumur lima tahun, itupun dengan awalmula yang aneh, disaat umurku lima tahun aku sudah tidah berada di bangku taman kanak-kanak lagi, itu yang membuatku selalu berada dirumah. Dengan pemikiran yang aneh aku merasa “buat apa aku dirumah? Apa aku harus main seharian? (ketika itu banyak teman-temanku yang mengisi hari-harinya dengan bermain karna bagi orangtua mereka mereka belum siap untuk duduk manis di sekolah dasar)”. Fikiran itu selalu mengikutiku setiap kali aku bermain bersama teman-temanku, aku sering merasakan ada yang salah ketika aku bermain dan bercanda ala anak kecil dengan mereka, “ini salah, seharusnya aku berada disana dengan seragam putih merah, bukan bermain tanpa ada hasil yang kudapatkan, jika aku bersekolah apakah aku hanya bisa duduk sambil memegang pensil?, tentu saja tidak, aku juga bisa bermain, dan aku juga bias dapat ilmu yang belum tentu aku dapatkan jika aku bermain disini”.
Setelah itu aku memutuskan untuk ikut ayahku ke sekolah dasar tempat ia mengajar di daerah Kalimantan barat, aku dititipkan dengan seorang guru yang ramah, nampaknya dia telah terbiasa dengan anak seusia denganku, dan dugaanku benar, dia memang guru yang mengajar anak-anak di kelas satu. Aku duduk di lorong kelas sambil menunggu ayahku selesai berbincang dengan guru kelas satu itu, setelah selesai, ibu guru itu mengajak ku masuk kekelasnya, dan menyuruh aku duduk di bangku barisan belakang. Aku merasa asing disana ketika itu, dengan kemeja coklat berlogo pikacu (pokemon) aku merasa aku butuh seragam jika mau duduk disini lagi, dalam hati aku berkata “tak apalah, mungkin hari ini ayahku membawaku agar aku tak bosan dirumah, (karna sehari sebelumnya aku tak mau keluar rumah dan sibuk menyalin buku cerita)” sungguh aneh kelakuanku hehe.
Keesokan harinya seragam lengkap telah tersedia entah darimana datangnya, akupun heran, “ seragam siapa itu? Apakah hari ini aku akan duduk di bangku belakang itu lagi dengan seragam itu?, bukankah umurku belum ideal untuk mendapatkan predikat anak sekolah dasar?, (ketika itu di kalimantan umur lima tahun bukanlah waktu yang tepat untuk memulai bersekolah). Kebingunganku terjawab setelah aku dipakaikan seragam itu oleh ibuku. Ternyata seragam itu memang untukku. Sambil merapikan dasiku ibuku berkata, “ikuti apa yang diperintah bu guru ya!, dengarkan apa yang disampaikannya!” aku mengangguk dengan mulut penuh dengan makanan sarapan pagi.
Sepeda hitampun dikeluarkan dari dalam rumah, dan itu tandanya bahwa aku dan ayahku siap untuk berangkat ke tempat yang sama, yaitu tempat ayahku mengajar (sekolah dasar). Sesampainya disana aku duduk manis mengikuti instruksi ibu guruku dengan hati yang gembira, karna keinginanku telah tercapai, semua nasehat ibuku aku penuhi semua, dan akupun tak sabar untuk pulang bertemu ibu dan menceritakan pengalaman pertamaku berseragam putih merah. Setelah pulang dari tempat yang nyaman itu akupun menceritakan semua pengalamanku hari ini sesuai apa yang aku inginkan tadi. Setelah itu aku tak sengaja mendengar perbincangan ibuku dengan seseorang perempuan yang baru saja datang kerumahku. “mas adhit udah sekolah bu?” Tanya perempuan itu, “oh belum, itu hanya ikut-ikutan saja, biar dia gak bosan dirumah, lagian anaknya gak mau keluar rumah” itu jawab ibuku dengan senyum ramahnya, sontak aku langsung mengerti apa maksud perkataan ibuku tadi.
Keesokan paginya hari lumayan cerah, cerah secerah semangatku mengikuti pelajaran dan bermain dengan teman-temanku di sekolah, perkataan ibuku tak menjadi sesuatu yang berlanjut didalam kepalaku, “biarkan saja seperti ini, toh aku bisa bermain dan sekaligus belajar meski statusku bukanlah anak sekolah dasar yang resmi”. Setiap harinya aku bergelut dengan buku, dan berulang-ulang setiap harinya. Tak terasa aku telah menginjakan bulan ke tiga di sekolah dasar itu, ayahku pun tak lagi bersemangat untuk berangkat bersama ke sekolah yang tak terlalu bagus itu, tak kehabisan ide aku pun berdiri di depan rumahku yang langsung menghadap ke jalan raya, aku selalu tersenyum manis ketika segerombolan anak SMP atau SMA yang lewat mengendarai sepeda mereka secara berkelompok (pada saat itu di Kalimantan tempatku tinggal memang sangat jarang sekali ada angkutan umum). Tak sedikit dari gerombolan bersepedah itu acuh tak membalas senyumku, tetapi tak sedikit pula yang berhenti dan menawarkanku tumpangan.
Selama menjalani hari-hariku dengan bersekolah, seperti anak-anak yang lain aku diberi uang saku setiap harinya, itu cukup untuk membeli satu kue fastel dan satu es teh manis yang dibekukan, itu tak sebanyak teman-temanku yang dapat membeli banyak jajanan, aku tak sedikitpun merasa iri dengan mereka, karena mendapat uang saku yang banyak bukanlah tujuanku berada disini. Tetapi apa salahnya jika aku bias dapat itu dengan caraku sendiri. Tak habis lagi akalku untuk merasakan apa yang temanku rasakan, akupun ingin membeli banyak jajanan di sekolah, ketika itu, pulang sekolah aku langsung pergi kebelakang rumah, mencari sesuatu yang dapat memberikan aku sedikit uang tambahan tanpa merugikan orangtuaku, aku melihat banyak pahon sayuran cangkok manis atau yang biasa disebut sayur katuk (ketika itu di belakang rumahku adalah kebun, dan ayahku memang hoby menanam apa saja di sana dengan hanya kerena alasan hoby).
Setelah hari itu aku selalu memetik sayuran itu seminggu dua kali, lalu aku bagi menjadi tiga ikatan dan aku titipkan di warung sayuran yang biasa kusebut “warung nenek”, aku mengantar sayuran itu ketika aku berangkat sekolah bersama kaka-kaka yang baik yang bersedia memberiku tumpangan menuju kesekolah, kebetulan warung nenek satu arah dengan sekolahku. Aku titipkan sayuran itu dengan harapan setelah pulang nanti aku mendapat sesuatu dari sayuran yang kupetik, aku menjualnya seharga Rp 400 per ikat, karna nenek menjualnya seharga lima ratus rupiah per ikat. Dengan begitu aku dapat merasakan bagaimana memiliki uang saku yang banyak dengan tanpa merepotkan orang tuaku.
Tak terasa sudah satu tahun aku menjalani hidupku dengan berpura-pura menjadi anak sekolah dasar, kini sudah hampir saatnya aku memulai menjadi murid sekolah dasar sungguhan dengan teman-teman yang baru nanti. Ujian akhir telah kulewati bersama teman-teman yang mengasyikan ini, setelah pengumuman kenaikan kelas, maka aku akan berpisah dengan mereka dan meetap di kelas ini, membenarkan kebohongan selama ini. Dan tak terasapula hari itupun terjadi, semua temanku naik ke kelas dua, dan aku bahkan tak jelas memiliki rapor atau tidak, tetapi mungki tuhan berkehendak lain, aku dipanggil ke ruang guru yang banyak buku-buku tebal disetiap mejanya, disana ternyata ada beberapa guru yang telah menungguku dan tak terkecuali ayahku, disana mereka berbincang panjang lebar, dan aku hanya diam sambil memainkan jari jemariku membentuk kepiting berulang-ulang, karena kurasa aku belum cukup dapat memahami apa yang mereka perbincangkan. Akhirnya perbincangan yang memakan waktu itupun selesai, dan aku bergegas pulang bersama ayahku dengan mengendarai sepeda hitam itu tanpa bertanya sedikitpun.
Sesampainya dirumah barulah semua dijelaskan dengan agak sedikit rumit, yang intinya aku dinaikan ke kelas dua karena semua nilai-nilaiku selama ini telah memikul aku meraih peringkat 3 di kelasku, lalu aku memandang heran pada ayahku, aku rasa aku tak serajin yang lain, aku juga tak seaktif yang lain, tetapi inilah yang terjadi.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar