Daftar Blog Saya

Minggu, 18 Desember 2011

Bodoh itu bukan bodoh #4


Matahari saja diam
Tak terdengar suaranya oleh setiap insan
Lalu kenapa kita harus berteriak?
Bulan saja diam ketika menyinari alam semesta
lalu kenapa kita harus berceloteh setiap saat?
apakah kita sudah mampu menyinari dan menghangatkan dunia?
tak pantas mulut hampa itu berkata tanpa berguna bagi semua yang bernafas
karena yang berguna saja diam!



Hari ini hari yang cukup cerah untuk menjalani hariku sebagai siswa baru di SMPN 219 Jakarta, aku bertemu dengan teman-teman yang baru lagi. Kelas yang bertuliskan VII-7 adalah tempa yang akan aku jadikan sebagai rumah keduaku, tak seperti sekolah dasar, di SMP semua guru hanya mengajar bidangnya masing-masing, semua guru mengajar dengan karakter yang berbeda-beda, ada yang sangat disiplin, ada yang disiplin, dan ada yang tak terlalu disiplin. Mula-mula aku mempelajari semua karakter guru-guru yang mengajar di kelasku, setelah itu barulah aku dapat menyimpulkan kapan aku harus sangat serius, dan kapan aku harus sedikit meregangkan otot-otot rahangku. Aku suka dengan pelajaran yang menggunakan logika untuk memahaminya, tetapi aku juga suka berhitung, namun yang tak kusuka adalah saat seorang guru datang dengan membawa buku bertuliskan Bahasa Inggris, entah kenapa sejak aku duduk di bangku sekolah dasar, aku sangat sulit memahami pelajaran Bahasa inggris.
Selama ini, aku baru menyadari bahwa setiap aku menempatkan diriku di lingkungan baru, aku selalu mengubah diriku, aku berubah mengikuti lingkungan di sekitarku, tetapi anehnya aku malah menjadi orang yang aneh disana, aku memilih untuk menjadi orang yang bodoh, menurutku bodoh itu mengasyikan, kita tak perlu menjawab sesuatu yang tak berguna, dan itu merupakan hal yang wajar bagi seseorang yang bodoh, dengan begitu kita tak perlu malu untuk diam ketika kita menganggap hal itu tidak penting bagi kita. Namun dibalik kebodohanku dimata orang lain, aku tak sebodoh apa yang ada di pikiran mereka, aku mengerti setiap pelajaran, aku tahu mana yang baik dan mana yang benar, aku berperilaku bodoh hanya agar aku bisa melakukan hal yang wajar bagi setiap orang bodoh. Tidur di kelas, tak menggerjakan PR, bahkan mendapat nilai jelek itu adalah bagian dari proses belajar mengajar di sekolah, setiap orang pasti akan selalu berusaha menghindari hal-hal seperti itu, namun bagiku itu bukan menjadi masalah yang serius, dengan orang menilaiku sebagai orang bodoh, maka aku akan selalu mendapat kata-kata pemakluman dari mereka, pada kenyataannya aku bisa saja mengerjakan semuanya dengan baik, tetapi aku tak mau merepotkan diriku sendiri, itulah alasan kenapa aku suka menjadi orang yang bodoh dimata orang lain.
Aku pernah mendengar sebuah pernyataan yang menjelaskan bahwa di SMP adalah masa-masa yang indah untuk memulai mencari perhatian lawan jenis, tapi menurutku itu tak terjadi padaku, aku malah menjadi orang yang sangat diam kala itu, memandang aneh pada teman-teman priaku yang sangat berlebihan ketika dihadapkan dengan seorang wanita yang cantik, bagiku mereka itu aneh, mereka bahkan rela pulang terlambat hanya untuk menunggu sang pujaan hatinya selesai dari ekstra kurikulernya. Ketika melihat wanita cantik dan modis hanya ini yang ada di dalam pikiranku “ah cantik, gaul, pasti sombong”, itu alasan kenapa aku enggan mendekati seorangpun teman perempuanku di SMP. Dengan kebiasaanku itu lalu rata-rata teman sekelasku menilaiku sebagai seseorang yang sombong dan jaim. Tak jarang teman-temanku baik laki-laki bahkan perempuan yang mengolok kebiasaanku, dan aku punya jurus jitu untuk mengunci mulut teman-temanku, cukup dengan beberapa kata “gue homo” dan semua selesai, trik ini aku terapkan hingga sekarang, bila ada yang menyinggung tentang perempuan yang menurutku tak membuatku senang.
Rambut jabrik rata dengan minyak rambut atau berponi hingga menutupi alis telah mendarah daging bagi teman-temanku, mereka rela bangun pagi hanya untuk menata rambut mereka, aneh memang zaman yang terjadi kala itu. Namun itu tak mendarah daging di dalam diriku, rambut seperti mangkok selalu terlihat setiap hari berada di atas kepalaku, ketika SMP aku mungkin menjadi anak yang paling cupu (culun punya) sekelas, bahkan mungkin predikat itu sudah mencakup satu sekolah, namun aku tak pernah malu akan hal itu, karena aku adalah aku, tak penting omongan orang lain bagiku, jodoh telah diatur, jadi biarkan saja semua berjalan apa adanya. mereka suka dengan dunia mereka, dan aku juga suka dengan duniaku sendiri.
          Sejak duduk di bangku sekolah menengah pertama, aku mengalami banyak sekali pemahaman tentang kehidupan, dari mulai yang membuat aku menjadi terpuruk maupun yang membuat aku bersemangat untuk menjalani kehidupanku sendiri. Seiring berjalannya waktu, akupun duduk di kelas VIII sekarang, sedikit demi sedikit sifatku mulai berubah, aku tak lagi diam ketika teman-temanku bercanda gurau, sedikit demi sedikit aku mulai bisa terbawa dengan suasana mereka, tetapi hal itu bukan karena pemikiranku yang aneh sudah tidak lagi muncul, melainkan aku menyadari bahwa disaat aku berada di hadapan semua orang aku adalah bagian dari mereka, tetapi setelah aku sendiri menjadi diriku sendiri, ya itulah aku. Aku selalu berusaha menampilkan senyuman kepada semua orang meski aku tak sedang tersenyum, karena dengan kita tersenyum maka orang yang mungkin sedang tidak tersenyum akan sedikit berubah perasaannya, dengan begitu maka mereka akan tersenyum karena kita, aku merasa nyaman dengan apa yang aku lakukan, aku berpikir “bukan suatu masalah aku berbohong dengan memasang senyuman di depan orang banyak, asal mereka bisa terbawa oleh senyumanku, dengan begitu aku telah membuat kebahagiaan bagi mereka, mereka tak perlu tahu bagaimana perasaanku saat itu, karena seseorang terlihat bagus jika tersenyum”.
          Aku memang merasa telah sedikit dapat berpikir dewasa sekarang, namun kemalasanku adalah hal yang sangat sulit sekali untuk diatasi, selama aku duduk di bangku  sekolah menengah pertama seperti biasa aku tak pernah membuka sedikitpun buku-buku pelajaranku, buku-bukuku hanya hidup di tas dan di sekolahku saja, selebihnya mungkin dia menghilang dari dunia ini. Aku ingat ketika SMP aku sempat berdebat dengan salah seorang guru IPS yang mengajar dikelasku, ketika itu aku berada di tingkat paling tinggi di  sekolah menengah pertama, yaitu kelas IX. Aku menganggap pelajaran itu bukanlah suatu pelajaran yang pasti, tak seperti MTK, FISIKA dll yang menggunakan rumus yang tak mungkin berubah dan bersifat mutlak. Aku merasa keberatan dengan cara mengajar guruku itu, dia mengharuskan semua muridnya untuk mengahapal semua materi yang dia berikan, dengan maksud kelak jika dia mengadakan sebuah ujian kami harus menjawab semua pertanyaannya sama persis dengan teori-teori yang telah dia berikan tanpa ada sedikit tambahan ataupun pengurangan.
          Perasaan tak terima membuat aku yang tadinya hanya mendengarkan dan diam berubah menjadi seseorang yang sangat kritis, melontarkan beberapa pertanyaan “siapakan yang membuat teori tersebut pak? apakah kami harus menjadi si pembuat teori tersebut? bukankan semua orang memiliki pemikiran yang berbeda?” lalu guruku menjawab “ini adalah teori yang telah diturunkan bertahun-tahun, saya sudah lama mengajar di sini” akupun masih belum puas dengan jawaban guruku itu, lalu aku mulai bertanya kembali “apakah teori itu bersifat mutlak? sehingga kita harus berpikiran sama dengan apa yang ada di teori itu” gurukupun diam dan suasana menjadi hening, akupun terdiam, membayangkan apa yang telah aku lakukan, jarang sekali aku mengemukakan pendapatku di depan orang banyak, tetapi hari ini mulutku seakan memberontak untuk menutup, seakan menjadi teman dari hatiku yang sangan memberontak dengan apa yang aku alami, karena selama ini yang aku alami, hatiku tak bersahabat dengan mulutmu, hatiku memberontak, tetapi mulutku tak mau menyampaikan apa yang hatiku rasakan.
Aku sangat membedakan mana yang menjadi pelajaran yang pasti dan mana yang menjadi pelajaran yang tak pasti, karena bagiku pelajaran yang tak pasti adalah pelajaran yang seharusnya memacu otak kita untuk berkembang dengan pemikiran kita sendiri, itu sangat berbeda dengan pelajaran yang pasti atau mutlak, ketika guru memberikan kita contoh “A” dan kitapun harus menjawabnya dengan cara yang sama, tulisan yang sama dan bahkan harus berpikiran sama, yaitu “A”. Sangat berbeda dengan pelajaran yang tak pasti, ketika guru memberi teori dan jawaban “A” maka kita tak harus menjawab sama persis dengan “A”, kita bisa saja menjawab “a” atau dengan tulisan yang lain, namun dengan tujuan dan maksud yang sama, itulah yang membutku beranggapan bahwa pelajaran yang tak pasti adalah pelajaran yang seharusnya membuat kita mengembangkan pemikiran kita sendiri, bukan menjadi robot yang telah diseting dan di program untuk menjadi pemikiran orang lain yang kita baca dari buku, “bukankah kita memiliki otak untuk berpikir? buku lahir dari kejeniusan otak, lalu mengapa kita harus berpatokan dari buku yang terlahir dari otak? bukankah kita memiliki otak kita sendiri?”.

                                                   ***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar