Matahari saja diam
Tak terdengar suaranya oleh setiap insan
Lalu kenapa kita harus berteriak?
Bulan saja diam ketika menyinari alam semesta
lalu kenapa kita harus berceloteh setiap saat?
apakah kita sudah mampu menyinari dan menghangatkan
dunia?
tak pantas mulut hampa itu berkata tanpa berguna
bagi semua yang bernafas
Hari ini hari
yang cukup cerah untuk menjalani hariku sebagai siswa baru di SMPN 219 Jakarta,
aku bertemu dengan teman-teman yang baru lagi. Kelas yang bertuliskan VII-7
adalah tempa yang akan aku jadikan sebagai rumah keduaku, tak seperti sekolah
dasar, di SMP semua guru hanya mengajar bidangnya masing-masing, semua guru
mengajar dengan karakter yang berbeda-beda, ada yang sangat disiplin, ada yang
disiplin, dan ada yang tak terlalu disiplin. Mula-mula aku mempelajari semua
karakter guru-guru yang mengajar di kelasku, setelah itu barulah aku dapat
menyimpulkan kapan aku harus sangat serius, dan kapan aku harus sedikit
meregangkan otot-otot rahangku. Aku suka dengan pelajaran yang menggunakan
logika untuk memahaminya, tetapi aku juga suka berhitung, namun yang tak kusuka
adalah saat seorang guru datang dengan membawa buku bertuliskan Bahasa Inggris,
entah kenapa sejak aku duduk di bangku sekolah dasar, aku sangat sulit memahami
pelajaran Bahasa inggris.
Selama ini, aku
baru menyadari bahwa setiap aku menempatkan diriku di lingkungan baru, aku
selalu mengubah diriku, aku berubah mengikuti lingkungan di sekitarku, tetapi
anehnya aku malah menjadi orang yang aneh disana, aku memilih untuk menjadi orang
yang bodoh, menurutku bodoh itu mengasyikan, kita tak perlu menjawab sesuatu
yang tak berguna, dan itu merupakan hal yang wajar bagi seseorang yang bodoh,
dengan begitu kita tak perlu malu untuk diam ketika kita menganggap hal itu
tidak penting bagi kita. Namun dibalik kebodohanku dimata orang lain, aku tak
sebodoh apa yang ada di pikiran mereka, aku mengerti setiap pelajaran, aku tahu
mana yang baik dan mana yang benar, aku berperilaku bodoh hanya agar aku bisa
melakukan hal yang wajar bagi setiap orang bodoh. Tidur di kelas, tak
menggerjakan PR, bahkan mendapat nilai jelek itu adalah bagian dari proses
belajar mengajar di sekolah, setiap orang pasti akan selalu berusaha
menghindari hal-hal seperti itu, namun bagiku itu bukan menjadi masalah yang
serius, dengan orang menilaiku sebagai orang bodoh, maka aku akan selalu
mendapat kata-kata pemakluman dari mereka, pada kenyataannya aku bisa saja
mengerjakan semuanya dengan baik, tetapi aku tak mau merepotkan diriku sendiri,
itulah alasan kenapa aku suka menjadi orang yang bodoh dimata orang lain.
Aku pernah
mendengar sebuah pernyataan yang menjelaskan bahwa di SMP adalah masa-masa yang
indah untuk memulai mencari perhatian lawan jenis, tapi menurutku itu tak
terjadi padaku, aku malah menjadi orang yang sangat diam kala itu, memandang
aneh pada teman-teman priaku yang sangat berlebihan ketika dihadapkan dengan
seorang wanita yang cantik, bagiku mereka itu aneh, mereka bahkan rela pulang
terlambat hanya untuk menunggu sang pujaan hatinya selesai dari ekstra
kurikulernya. Ketika melihat wanita cantik dan modis hanya ini yang ada di
dalam pikiranku “ah cantik, gaul, pasti sombong”, itu alasan kenapa aku enggan
mendekati seorangpun teman perempuanku di SMP. Dengan kebiasaanku itu lalu
rata-rata teman sekelasku menilaiku sebagai seseorang yang sombong dan jaim.
Tak jarang teman-temanku baik laki-laki bahkan perempuan yang mengolok
kebiasaanku, dan aku punya jurus jitu untuk mengunci mulut teman-temanku, cukup
dengan beberapa kata “gue homo” dan semua selesai, trik ini aku terapkan hingga
sekarang, bila ada yang menyinggung tentang perempuan yang menurutku tak
membuatku senang.
Rambut jabrik
rata dengan minyak rambut atau berponi hingga menutupi alis telah mendarah
daging bagi teman-temanku, mereka rela bangun pagi hanya untuk menata rambut
mereka, aneh memang zaman yang terjadi kala itu. Namun itu tak mendarah daging
di dalam diriku, rambut seperti mangkok selalu terlihat setiap hari berada di
atas kepalaku, ketika SMP aku mungkin menjadi anak yang paling cupu (culun punya) sekelas, bahkan
mungkin predikat itu sudah mencakup satu sekolah, namun aku tak pernah malu
akan hal itu, karena aku adalah aku, tak penting omongan orang lain bagiku,
jodoh telah diatur, jadi biarkan saja semua berjalan apa adanya. mereka suka
dengan dunia mereka, dan aku juga suka dengan duniaku sendiri.
Sejak
duduk di bangku sekolah menengah pertama, aku mengalami banyak sekali pemahaman
tentang kehidupan, dari mulai yang membuat aku menjadi terpuruk maupun yang
membuat aku bersemangat untuk menjalani kehidupanku sendiri. Seiring
berjalannya waktu, akupun duduk di kelas VIII sekarang, sedikit demi sedikit
sifatku mulai berubah, aku tak lagi diam ketika teman-temanku bercanda gurau,
sedikit demi sedikit aku mulai bisa terbawa dengan suasana mereka, tetapi hal
itu bukan karena pemikiranku yang aneh sudah tidak lagi muncul, melainkan aku
menyadari bahwa disaat aku berada di hadapan semua orang aku adalah bagian dari
mereka, tetapi setelah aku sendiri menjadi diriku sendiri, ya itulah aku. Aku
selalu berusaha menampilkan senyuman kepada semua orang meski aku tak sedang
tersenyum, karena dengan kita tersenyum maka orang yang mungkin sedang tidak
tersenyum akan sedikit berubah perasaannya, dengan begitu maka mereka akan
tersenyum karena kita, aku merasa nyaman dengan apa yang aku lakukan, aku
berpikir “bukan suatu masalah aku berbohong dengan memasang senyuman di depan
orang banyak, asal mereka bisa terbawa oleh senyumanku, dengan begitu aku telah
membuat kebahagiaan bagi mereka, mereka tak perlu tahu bagaimana perasaanku
saat itu, karena seseorang terlihat bagus jika tersenyum”.
Aku
memang merasa telah sedikit dapat berpikir dewasa sekarang, namun kemalasanku
adalah hal yang sangat sulit sekali untuk diatasi, selama aku duduk di
bangku sekolah menengah pertama seperti
biasa aku tak pernah membuka sedikitpun buku-buku pelajaranku, buku-bukuku
hanya hidup di tas dan di sekolahku saja, selebihnya mungkin dia menghilang
dari dunia ini. Aku ingat ketika SMP aku sempat berdebat dengan salah seorang
guru IPS yang mengajar dikelasku, ketika itu aku berada di tingkat paling tinggi
di sekolah menengah pertama, yaitu kelas
IX. Aku menganggap pelajaran itu bukanlah suatu pelajaran yang pasti, tak
seperti MTK, FISIKA dll yang menggunakan rumus yang tak mungkin berubah dan
bersifat mutlak. Aku merasa keberatan dengan cara mengajar guruku itu, dia
mengharuskan semua muridnya untuk mengahapal semua materi yang dia berikan,
dengan maksud kelak jika dia mengadakan sebuah ujian kami harus menjawab semua
pertanyaannya sama persis dengan teori-teori yang telah dia berikan tanpa ada
sedikit tambahan ataupun pengurangan.
Perasaan
tak terima membuat aku yang tadinya hanya mendengarkan dan diam berubah menjadi
seseorang yang sangat kritis, melontarkan beberapa pertanyaan “siapakan yang
membuat teori tersebut pak? apakah kami harus menjadi si pembuat teori
tersebut? bukankan semua orang memiliki pemikiran yang berbeda?” lalu guruku
menjawab “ini adalah teori yang telah diturunkan bertahun-tahun, saya sudah
lama mengajar di sini” akupun masih belum puas dengan jawaban guruku itu, lalu
aku mulai bertanya kembali “apakah teori itu bersifat mutlak? sehingga kita
harus berpikiran sama dengan apa yang ada di teori itu” gurukupun diam dan
suasana menjadi hening, akupun terdiam, membayangkan apa yang telah aku
lakukan, jarang sekali aku mengemukakan pendapatku di depan orang banyak,
tetapi hari ini mulutku seakan memberontak untuk menutup, seakan menjadi teman
dari hatiku yang sangan memberontak dengan apa yang aku alami, karena selama
ini yang aku alami, hatiku tak bersahabat dengan mulutmu, hatiku memberontak,
tetapi mulutku tak mau menyampaikan apa yang hatiku rasakan.
Aku sangat
membedakan mana yang menjadi pelajaran yang pasti dan mana yang menjadi
pelajaran yang tak pasti, karena bagiku pelajaran yang tak pasti adalah
pelajaran yang seharusnya memacu otak kita untuk berkembang dengan pemikiran
kita sendiri, itu sangat berbeda dengan pelajaran yang pasti atau mutlak,
ketika guru memberikan kita contoh “A” dan kitapun harus menjawabnya dengan
cara yang sama, tulisan yang sama dan bahkan harus berpikiran sama, yaitu “A”.
Sangat berbeda dengan pelajaran yang tak pasti, ketika guru memberi teori dan
jawaban “A” maka kita tak harus menjawab sama persis dengan “A”, kita bisa saja
menjawab “a” atau dengan tulisan yang lain, namun dengan tujuan dan maksud yang
sama, itulah yang membutku beranggapan bahwa pelajaran yang tak pasti adalah
pelajaran yang seharusnya membuat kita mengembangkan pemikiran kita sendiri,
bukan menjadi robot yang telah diseting dan di program untuk menjadi pemikiran
orang lain yang kita baca dari buku, “bukankah kita memiliki otak untuk
berpikir? buku lahir dari kejeniusan otak, lalu mengapa kita harus berpatokan
dari buku yang terlahir dari otak? bukankah kita memiliki otak kita sendiri?”.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar