Daftar Blog Saya

Kamis, 08 Desember 2011

Bodoh itu bukan bodoh #3


Diam dengan mulut berbicara dalam hati
Perasaan yang tak mungkin di ungkap melalui kata
Tertahan di hati sampai fikiran dan hati memberontak
Bertolak belakang dengan apa yang seharusnya dilakukan
Itulah yang kita rasakan ketika cinta merasuk secara diam-diam
Tanpa kita sadari melakukan sesuatu hal yang bodoh untuk membuktikannya
Perasaan cintalah yang membuat seseorang menjadi keliru


Setelah menjalani hari-hariku dengan aktifitas yang kutekuni, perasaan untuk berkembangpun muncul, belum lagi perasaan cinta mulai menjadi sesuatu yang wajar bagiku, ketika itu, di SDN Kabar 4 aku menemukan perasaan cinta itu lagi, aku menyukai seseorang yang mungkin bukan aku saja yang menyukai wanita bertubuh mungil dan cantik itu, Aulya namanya, dia anak yang aktif dan periang, entah kenapa aku selalu ingin melihat senyumnya, aku bukanlah orang yang mudah untuk jatuh cinta, tetapi aku bukan orang yang mudah untuk menyatakan cinta ketika aku menemui orang yang kurasa aku mencintainya, namun mungkin dia tak pernah tau perasaanku hingga sekarang, aku memang pengecut dalam urusan wanita.

Masa-masa menyenangkan di SDN Kabar 4 pun hampir berakhir, aku telah melewati ujian demi ujian yang mengantarkanku kembali menyandang anak kelas 4 SD (yang pernah aku sandang sebelumnya), sejak aku menginjak kelas 3 semester dua, terdengar kabar bahwa aku dan keluargaku akan pindah rumah di daerah Jakarta Barat, namun hingga aku naik ke kelas empatpun niatan itu tak kunjung tercapai, tetapi setelah aku berada di kelas empat semester dua barulah perkataan samar-samar itu tercapai, akhirnya aku pindah ke Jakarta.

Kepindahanku ke Jakarta menyisakan rasa rinduku pada teman-temanku, mungkin aku tak akan bisa lagi naik becak ke sekolah di Jakarta, dan yang jelas aku tak bisa lagi melihat wanita yang telah membuatku bersemangat bersekolah. Banyak kenangan yang tak mungkin aku lupakan di rumah nenekku, aku rindu ketika aku dan sepupuku bermain bersama teman-teman yang lain di depan rumah pada malam hari, hingga mengundang amarah warga di sekitar rumah nenekku, tetapi aku juga tak selamanya bahagia disana, kadang kala aku merasa dikucilkan oleh tetangga-tetanggaku, mungkin mereka berfikiran bahwa aku adalah orang pendatang, sering sekali aku sakit hati dibuatnya, bayangkan saja, ketika aku bermain dengan kedua saudaraku (Andrie dan Ricky), sering dari salah satu tetanggaku memanggil mereka berdua tanpa menunjuk kearahku, lalu kedua saudaraku masuk ke dalam rumah tetanggaku itu, dan tak sering juga aku menunggu mereka di teras rumah nenekku sambil duduk termenung dan merasakan sakit hati yang amat sangat, dan ketika kedua saudaraku keluar dari rumah tetanggaku, tak jarang mereka membawa sesuatu yang diinginkan anak-anak seusiaku, akupun hanya bisa tersenyum melihat mereka, sambil membayangkan “ketika aku berhasil, aku tak akan mau bebicara dengan tetanggaku itu saat aku ke rumah nenek”.

Setelah pindah ke Jakarta, aku dan keluargaku tinggal di daerah Meruya selatan, aku menetapi rumah dinas sekolah dasar 04 Meruya Selatan, dan otomatis akupun sekolah disana, selama masa penyesuaian diri kembali, aku tak melanjutkan Taekwondoku lagi, karna aku belum mendapatkan tempat untuk berlatih. Masa penyesuaian diri telah berakhir, kini tiba saatnya untuk duduk dan mendengarkan guruku berceloteh, ternyata aku masuk di kelas 4B yang mana setiap kelas dibagi menjadi A dan B, seperti biasa aku duduk di belakang, selama tinggal di Jakarta aku banyak sekali mendapat pengalaman hidup yang sangat berarti, pemikiran-pemikiran barupun selalu muncul di benakku, aku tak lagi mau menonjol di kelas, bukan karena aku bodoh, tetapi aku mendapatkan suatu pemikiran yang aneh, “buat apa aku sibuk mencari perhatian guru?, Yang aku butuhkan hanyalah duduk dan mengerti setiap ilmu yang dia beri, karena itu adalah tujuanku di sini dan itu merupakan keuntungan besar bagiku, apa dengan guru membangga-banggakan diriku maka aku akan berhasil kelak? Itu semua tak menjamin bagiku”.

Ketika di Jakarta, aku merasakan banyak perbedaan ketika aku berada di Kalimantan, orang-orangnya yang acuh menghiasi setiap hariku, gedung-gedung dan polusi sangat kental disini, ingin rasanya aku kembali ke Kalimantan, menghirup udara segar hasil fotosintesis pepohonan yang rindang-rindang, namun itu semua hanya buah pemikiranku saja, kurasa inilah jalan hidupku, aku memilih tersesat di jalan hidupku. Waktu bergulir dengan cepat, tak terasa aku menduduki kelas 5 sekarang, dengan teman-teman yang sama aku belajar dikelas lima, tak ada perubahan suasana meskipun aku telah berada di kelas lima, entah kenapa setelah aku pindah ke Jakarta aku merasa tidak cocok dengan suasananya, atau mungkin aku sedang berada di titik jenuh didalam hidupku?.

Saat di kelas lima, aku mencoba mengembangkan pemikiranku lagi, aku mencoba keluar dari masa jenuhku dan ingin rasanya kembali seperti dulu ketika aku masih berada di kaliantan. Selama di Jakarta aku merasakan adanya perbedaan derajat disini, siapa yang punya uang dia yang berkuasa, jadi aku tak bisa mengandalkan uang jajan yang diberikan orang tuaku, aku harus mencari tambahan lagi, setelah beberapa kali mencari dan mencari ide, akhirnya aku tau apa yang harus kulakukan, aku tinggal sangat dekat dengan sekolahku, “anak-anak kelas satu tak mungkin bisa untuk melaksanakan piket, kenapa bukan aku saja?”. Setelah berdiskusi dengan salah seorang orang tua murid, akhirnya aku dipercaya untuk membersihkan ruang kelas satu, dengan bayaran 160 ribu perbulan, aku sangat bersemangat menjalankan tanggung jawabku itu. Jika kita mau berusaha dan berfikir, mencari uang itu tak terlalu susah, tetapi mengapa banyak gelandangan dan pengemis di Jakarta?, mereka rela menjatuhkan derajat mereka sendiri demi uang yang tak seberapa, padahal mereka terlihat kuat untuk berkerja.

Tekanan didalam hidupku semakin kuat, aku dihadapkan dengan ujian yang menentukan aku akan tinggal di sekolah dasar atau aku lanjut ke sekolah menengah atas, kala itu aku sudah berada di kelas enam, tingkatan tertinggi bagi siswa di sekolah dasar, di saat inilah permulaan aku membenci orang-orang yang menganggap malas adalah bodoh, sempat beberapa kali di kelas enam aku mengalami perdebatan hebat dengan orang tuaku, mereka menuntut aku mendapatkan SMP yang berpredikat Negeri, mereka selalu mengancam dan mengancam, aku merasa sangat tertekan ketika itu, tak banyak suaraku yang keluar ketika aku berada di kelas enam, aku hanya memikirkan bagaimana nasibku setelah lulus dari sini. Aku sangat jengkel dengan orangtuaku, aku rasa orangtuaku melakukan hal yang salah, menurutku sewaktu aku sedang menghadapi ujian mereka seharusnya menyemangatiku seperti yang dialami oleh teman-temanku, tetapi aku sangat berbeda, aku mengalami tekanan yang sangat berat sekali, menjadikan aku sangat frustasi, ingin rasanya aku tak hidup sebagai aku.

Setelah semua berjalan dengan sangat berat, tiba saatnya bagiku untuk membuktikan bahwa aku bisa melewati semua ini, pertama aku dibingungkan dengan pilihan SMP mana yang akan aku pilih, kala itu setiap murid diberikan tiga kesempatan memilih SMP mana yang akan mereka masuki, tadinya aku memilih SMPN 206 sebagai pilihan pertamaku (itu sekolah yang lumayan  diunggulkan di daerahku), namun niatku itupun sirna setelah orangtuaku tak menyetujui niatanku itu, mereka berfikir bahwa aku tak akan sanggup memenuhi persyaratan nilai yang menjadi standart di SMPN 206, akupun hanya bisa menurut, dan pilihan pertamaku kala itu adalah SMPN 219,
Pilihan pertama : SMPN 219
Pilihan ke-dua   : SMPN 206
Pilihan ke-tiga   : SMPN 215

Data-data pilihanpun telah terkirim, akupun disibukan dengan beberapa tes, dari mulai peraktek, ujian sekolah, lalu ujian General test, aku melewatinya dengan berusaha untuk tetap tenang, walaupun kenyataanya sangat berlawanan. Ketika ujian telah berlalu, semua anak-anak sekolah dasar kelas enam tidak lagi melakukan prosesi belajar mengajar, kami hanya menunggu hasil yang menentukan lulus tidaknya kami dan ditempatkan di SMP mana kami nantinya. Namun aku tak pernah berfikir apakah aku lulus atau tidak, yang aku fikirkan apakah aku mendapat SMPN yang aku inginkan atau tidak, jikalau aku diterima di SMP yang aku inginkan, otomatis aku pasti lulus, itulah yang akan kutunjukan pada orang-orang yang telah meremehkanku selama ini.

Hari yang ditunggu-tunggu tiba, sama halnya dengan semua orang, hari itu adalah hari yang di tuggu namun ada perasaan takut untuk melewati hari itu. Semua teman-temanku datang ke sekolah pagi itu, hanya untuk menunggu selembar kertas yang akan di tempel di mading dengan nama-nama mereka dan keterangn kelulusan hingga akan masuk di SMP mana nantinya. Mereka semua termasuk aku datang sangat pagi, jauh lebih pagi dari kiriman lembaran kertas yang akan dikirim oleh pak pos, semua terasa kaku, tak seperti sebelum-sebelumnya, bahkan candaan-candaan yang biasanya menggelitikpun tak mampu mencairkan suasana, raut muka yang sangat tegang terlihat jelas disetiap aku memandang, tak sedikit dari temanku membuat butiran air mata dari mata mereka, jelas saja itu menambah ketegangan pada pagi itu.

Kepanikan muncul, pak pos datang dengan motor orangenya, semua siswa bergegas mengerubungi pak pos seolah-olah pak pos itu adalah orang yang mereka tunggu selama bertahun-tahun, amplop coklatpun dikeluarkan dari tasnya,puluhan pasang bola mata melotot mengikuti gerakan tangan pak pos yang sedang memegan amplop itu, namun kesabaran kami diuji, kami harus menunggu beberapa menit untuk bisa melihat buah hasil dari belajar kami selama di sekolah dasar, amplop itu terlebih dahulu  singgah di kantor para guru, tentu saja kami tak di izinkan untuk ikut masuk ke ruang guru. Semua temanku memutuskan untuk menunggu di depan mading, raut muka sangat kacau sudah mulai sangat mendominasi. Setelah beberapa menit, seorang guru nampak membawa lem dan dua lembar kertas yang samar isinya terlihat keluar dari ruang guru, kami semuapun mengerubunginya hingga guru itupun nyaris tak bisa bergerak karena desakan itu. Kertas itupun di tempel, dan semua siswa kelas enam mengerubungi mading hingga hampir membuat setengah lingkaran manusia.

Aku memutuskan untuk menunggu, menunggu setengah lingkaran manusia itu menjadi sedikit berkurang kesesakannya, aku menunggu beberapa meter dari punggung orang yang paling belakang yang sedang berkerumun untuk melihat dua kertas itu. Suasanapun bercampur aduk, beberapa dari temanku sudah  berpindah dari posisi mereka dengan bermacam ekspresi, ada yang kecewa karena tak mendapat SMP yang diinginkan, ada yang bahagia karena mendapat SMP yang dia inginkan, ada yang bahagia karena setidaknya dia telah lulus dan bahkan ada yang menangis histeris karena tulisan “TL” terpampang jelas di samping namanya.

Akupun semakin gugup, jantungku memompa aliran darahku begitu cepat, memaksa adrenalinku menjadi tak setabil, akhirnya aku memberanikan diri untuk melihat kertas itu, pertama aku mecari namaku di kertas pertama, tetapi aku menemukan namaku di kertas ke dua, setelah menemukan namaku, berat rasanya bola mataku untuk melirik ke samping, perlahan bola mataku memperhatikan keterangan dari diriku yang terpampang di mading itu sambil mengkerutkan dahiku, sontak senyuman dari bibirkupun muncul, aku lulus dengan nilai terbaik ke dua di sekolahku, dan yang paling penting aku diterima di SMPN 219 dengan peringkat ke 9 dari 200 lebih siswa yang di terima disana dari bermacam sekolah dasar. Namun, perasaanku tak murni bahagia, ada penyesalan tersirat di dalam benakku, andai saja pilihan pertamaku adalah SMPN 206 yang aku idamkan kala itu, hmm semua telah terjadi, mungkin memang ini jalanku, aku tak mungkin dapat mengulang waktu dan merubah semuanya, yang seharusnya aku lakukan adalah mensyukuri apa yang telah aku raih.


***

4 komentar:

  1. ku udah baca semua postingan kamu, overall ceritanya bagus.
    tapi coba lebih fokus sama isi ceritanya, biar klop sama judulnya.
    *keep writing and correct with heart
    #ditungguyanglainnya

    BalasHapus
  2. ok sip kk,,heheh makasih atas masukannya,,

    BalasHapus
  3. woowww...siipp lanjutkan...tulis mengenai taekwondonya juga donk aditt''

    BalasHapus
  4. oke,, makasih atas semua masukannya,,heheh

    BalasHapus