Diam dengan mulut berbicara dalam hati
Perasaan yang tak mungkin di ungkap melalui kata
Tertahan di hati sampai fikiran dan hati
memberontak
Bertolak belakang dengan apa yang seharusnya
dilakukan
Itulah yang kita rasakan ketika cinta merasuk
secara diam-diam
Tanpa kita sadari melakukan sesuatu hal yang bodoh
untuk membuktikannya
Perasaan cintalah yang membuat seseorang menjadi
keliru
Setelah
menjalani hari-hariku dengan aktifitas yang kutekuni, perasaan untuk
berkembangpun muncul, belum lagi perasaan cinta mulai menjadi sesuatu yang
wajar bagiku, ketika itu, di SDN Kabar 4 aku menemukan perasaan cinta itu lagi,
aku menyukai seseorang yang mungkin bukan aku saja yang menyukai wanita
bertubuh mungil dan cantik itu, Aulya namanya,
dia anak yang aktif dan periang, entah kenapa aku selalu ingin melihat
senyumnya, aku bukanlah orang yang mudah untuk jatuh cinta, tetapi aku bukan
orang yang mudah untuk menyatakan cinta ketika aku menemui orang yang kurasa
aku mencintainya, namun mungkin dia tak pernah tau perasaanku hingga sekarang,
aku memang pengecut dalam urusan wanita.
Masa-masa
menyenangkan di SDN Kabar 4 pun hampir berakhir, aku telah melewati ujian demi
ujian yang mengantarkanku kembali menyandang anak kelas 4 SD (yang pernah aku
sandang sebelumnya), sejak aku menginjak kelas 3 semester dua, terdengar kabar
bahwa aku dan keluargaku akan pindah rumah di daerah Jakarta Barat, namun
hingga aku naik ke kelas empatpun niatan itu tak kunjung tercapai, tetapi
setelah aku berada di kelas empat semester dua barulah perkataan samar-samar
itu tercapai, akhirnya aku pindah ke Jakarta.
Kepindahanku ke
Jakarta menyisakan rasa rinduku pada teman-temanku, mungkin aku tak akan bisa
lagi naik becak ke sekolah di Jakarta, dan yang jelas aku tak bisa lagi melihat
wanita yang telah membuatku bersemangat bersekolah. Banyak kenangan yang tak
mungkin aku lupakan di rumah nenekku, aku rindu ketika aku dan sepupuku bermain
bersama teman-teman yang lain di depan rumah pada malam hari, hingga mengundang
amarah warga di sekitar rumah nenekku, tetapi aku juga tak selamanya bahagia
disana, kadang kala aku merasa dikucilkan oleh tetangga-tetanggaku, mungkin
mereka berfikiran bahwa aku adalah orang pendatang, sering sekali aku sakit
hati dibuatnya, bayangkan saja, ketika aku bermain dengan kedua saudaraku
(Andrie dan Ricky), sering dari salah satu tetanggaku memanggil mereka berdua
tanpa menunjuk kearahku, lalu kedua saudaraku masuk ke dalam rumah tetanggaku itu,
dan tak sering juga aku menunggu mereka di teras rumah nenekku sambil duduk
termenung dan merasakan sakit hati yang amat sangat, dan ketika kedua saudaraku
keluar dari rumah tetanggaku, tak jarang mereka membawa sesuatu yang diinginkan
anak-anak seusiaku, akupun hanya bisa tersenyum melihat mereka, sambil
membayangkan “ketika aku berhasil, aku tak akan mau bebicara dengan tetanggaku
itu saat aku ke rumah nenek”.
Setelah pindah
ke Jakarta, aku dan keluargaku tinggal di daerah Meruya selatan, aku menetapi rumah dinas sekolah dasar 04 Meruya
Selatan, dan otomatis akupun sekolah disana, selama masa penyesuaian diri
kembali, aku tak melanjutkan Taekwondoku lagi, karna aku belum mendapatkan
tempat untuk berlatih. Masa penyesuaian diri telah berakhir, kini tiba saatnya
untuk duduk dan mendengarkan guruku berceloteh, ternyata aku masuk di kelas 4B
yang mana setiap kelas dibagi menjadi A dan B, seperti biasa aku duduk di
belakang, selama tinggal di Jakarta aku banyak sekali mendapat pengalaman hidup
yang sangat berarti, pemikiran-pemikiran barupun selalu muncul di benakku, aku
tak lagi mau menonjol di kelas, bukan karena aku bodoh, tetapi aku mendapatkan
suatu pemikiran yang aneh, “buat apa aku sibuk mencari perhatian guru?, Yang
aku butuhkan hanyalah duduk dan mengerti setiap ilmu yang dia beri, karena itu
adalah tujuanku di sini dan itu merupakan keuntungan besar bagiku, apa dengan
guru membangga-banggakan diriku maka aku akan berhasil kelak? Itu semua tak
menjamin bagiku”.
Ketika di
Jakarta, aku merasakan banyak perbedaan ketika aku berada di Kalimantan,
orang-orangnya yang acuh menghiasi setiap hariku, gedung-gedung dan polusi
sangat kental disini, ingin rasanya aku kembali ke Kalimantan, menghirup udara
segar hasil fotosintesis pepohonan yang rindang-rindang, namun itu semua hanya
buah pemikiranku saja, kurasa inilah jalan hidupku, aku memilih tersesat di
jalan hidupku. Waktu bergulir dengan cepat, tak terasa aku menduduki kelas 5
sekarang, dengan teman-teman yang sama aku belajar dikelas lima, tak ada
perubahan suasana meskipun aku telah berada di kelas lima, entah kenapa setelah
aku pindah ke Jakarta aku merasa tidak cocok dengan suasananya, atau mungkin
aku sedang berada di titik jenuh didalam hidupku?.
Saat di kelas
lima, aku mencoba mengembangkan pemikiranku lagi, aku mencoba keluar dari masa
jenuhku dan ingin rasanya kembali seperti dulu ketika aku masih berada di
kaliantan. Selama di Jakarta aku merasakan adanya perbedaan derajat disini,
siapa yang punya uang dia yang berkuasa, jadi aku tak bisa mengandalkan uang
jajan yang diberikan orang tuaku, aku harus mencari tambahan lagi, setelah
beberapa kali mencari dan mencari ide, akhirnya aku tau apa yang harus
kulakukan, aku tinggal sangat dekat dengan sekolahku, “anak-anak kelas satu tak
mungkin bisa untuk melaksanakan piket, kenapa bukan aku saja?”. Setelah
berdiskusi dengan salah seorang orang tua murid, akhirnya aku dipercaya untuk
membersihkan ruang kelas satu, dengan bayaran 160 ribu perbulan, aku sangat
bersemangat menjalankan tanggung jawabku itu. Jika kita mau berusaha dan
berfikir, mencari uang itu tak terlalu susah, tetapi mengapa banyak gelandangan
dan pengemis di Jakarta?, mereka rela menjatuhkan derajat mereka sendiri demi
uang yang tak seberapa, padahal mereka terlihat kuat untuk berkerja.
Tekanan didalam
hidupku semakin kuat, aku dihadapkan dengan ujian yang menentukan aku akan
tinggal di sekolah dasar atau aku lanjut ke sekolah menengah atas, kala itu aku
sudah berada di kelas enam, tingkatan tertinggi bagi siswa di sekolah dasar, di
saat inilah permulaan aku membenci orang-orang yang menganggap malas adalah
bodoh, sempat beberapa kali di kelas enam aku mengalami perdebatan hebat dengan
orang tuaku, mereka menuntut aku mendapatkan SMP yang berpredikat Negeri,
mereka selalu mengancam dan mengancam, aku merasa sangat tertekan ketika itu,
tak banyak suaraku yang keluar ketika aku berada di kelas enam, aku hanya
memikirkan bagaimana nasibku setelah lulus dari sini. Aku sangat jengkel dengan
orangtuaku, aku rasa orangtuaku melakukan hal yang salah, menurutku sewaktu aku
sedang menghadapi ujian mereka seharusnya menyemangatiku seperti yang dialami
oleh teman-temanku, tetapi aku sangat berbeda, aku mengalami tekanan yang
sangat berat sekali, menjadikan aku sangat frustasi, ingin rasanya aku tak
hidup sebagai aku.
Setelah semua
berjalan dengan sangat berat, tiba saatnya bagiku untuk membuktikan bahwa aku
bisa melewati semua ini, pertama aku dibingungkan dengan pilihan SMP mana yang
akan aku pilih, kala itu setiap murid diberikan tiga kesempatan memilih SMP
mana yang akan mereka masuki, tadinya aku memilih SMPN 206 sebagai pilihan
pertamaku (itu sekolah yang lumayan
diunggulkan di daerahku), namun niatku itupun sirna setelah orangtuaku
tak menyetujui niatanku itu, mereka berfikir bahwa aku tak akan sanggup
memenuhi persyaratan nilai yang menjadi standart di SMPN 206, akupun hanya bisa
menurut, dan pilihan pertamaku kala itu adalah SMPN 219,
Pilihan pertama : SMPN 219
Pilihan ke-dua : SMPN 206
Pilihan ke-tiga : SMPN 215
Data-data
pilihanpun telah terkirim, akupun disibukan dengan beberapa tes, dari mulai
peraktek, ujian sekolah, lalu ujian General
test, aku melewatinya dengan berusaha untuk tetap tenang, walaupun
kenyataanya sangat berlawanan. Ketika ujian telah berlalu, semua anak-anak sekolah
dasar kelas enam tidak lagi melakukan prosesi belajar mengajar, kami hanya
menunggu hasil yang menentukan lulus tidaknya kami dan ditempatkan di SMP mana
kami nantinya. Namun aku tak pernah berfikir apakah aku lulus atau tidak, yang
aku fikirkan apakah aku mendapat SMPN yang aku inginkan atau tidak, jikalau aku
diterima di SMP yang aku inginkan, otomatis aku pasti lulus, itulah yang akan
kutunjukan pada orang-orang yang telah meremehkanku selama ini.
Hari yang
ditunggu-tunggu tiba, sama halnya dengan semua orang, hari itu adalah hari yang
di tuggu namun ada perasaan takut untuk melewati hari itu. Semua teman-temanku datang
ke sekolah pagi itu, hanya untuk menunggu selembar kertas yang akan di tempel
di mading dengan nama-nama mereka dan keterangn kelulusan hingga akan masuk di
SMP mana nantinya. Mereka semua termasuk aku datang sangat pagi, jauh lebih pagi
dari kiriman lembaran kertas yang akan dikirim oleh pak pos, semua terasa kaku,
tak seperti sebelum-sebelumnya, bahkan candaan-candaan yang biasanya
menggelitikpun tak mampu mencairkan suasana, raut muka yang sangat tegang
terlihat jelas disetiap aku memandang, tak sedikit dari temanku membuat butiran
air mata dari mata mereka, jelas saja itu menambah ketegangan pada pagi itu.
Kepanikan
muncul, pak pos datang dengan motor orangenya, semua siswa bergegas
mengerubungi pak pos seolah-olah pak pos itu adalah orang yang mereka tunggu selama
bertahun-tahun, amplop coklatpun dikeluarkan dari tasnya,puluhan pasang bola
mata melotot mengikuti gerakan tangan pak pos yang sedang memegan amplop itu,
namun kesabaran kami diuji, kami harus menunggu beberapa menit untuk bisa
melihat buah hasil dari belajar kami selama di sekolah dasar, amplop itu
terlebih dahulu singgah di kantor para
guru, tentu saja kami tak di izinkan untuk ikut masuk ke ruang guru. Semua
temanku memutuskan untuk menunggu di depan mading, raut muka sangat kacau sudah
mulai sangat mendominasi. Setelah beberapa menit, seorang guru nampak membawa
lem dan dua lembar kertas yang samar isinya terlihat keluar dari ruang guru,
kami semuapun mengerubunginya hingga guru itupun nyaris tak bisa bergerak
karena desakan itu. Kertas itupun di tempel, dan semua siswa kelas enam
mengerubungi mading hingga hampir membuat setengah lingkaran manusia.
Aku memutuskan
untuk menunggu, menunggu setengah lingkaran manusia itu menjadi sedikit
berkurang kesesakannya, aku menunggu beberapa meter dari punggung orang yang paling
belakang yang sedang berkerumun untuk melihat dua kertas itu. Suasanapun
bercampur aduk, beberapa dari temanku sudah
berpindah dari posisi mereka dengan bermacam ekspresi, ada yang kecewa
karena tak mendapat SMP yang diinginkan, ada yang bahagia karena mendapat SMP
yang dia inginkan, ada yang bahagia karena setidaknya dia telah lulus dan
bahkan ada yang menangis histeris karena tulisan “TL” terpampang jelas di samping namanya.
Akupun semakin
gugup, jantungku memompa aliran darahku begitu cepat, memaksa adrenalinku
menjadi tak setabil, akhirnya aku memberanikan diri untuk melihat kertas itu,
pertama aku mecari namaku di kertas pertama, tetapi aku menemukan namaku di
kertas ke dua, setelah menemukan namaku, berat rasanya bola mataku untuk
melirik ke samping, perlahan bola mataku memperhatikan keterangan dari diriku
yang terpampang di mading itu sambil mengkerutkan dahiku, sontak senyuman dari
bibirkupun muncul, aku lulus dengan nilai terbaik ke dua di sekolahku, dan yang
paling penting aku diterima di SMPN 219 dengan peringkat ke 9 dari 200 lebih
siswa yang di terima disana dari bermacam sekolah dasar. Namun, perasaanku tak
murni bahagia, ada penyesalan tersirat di dalam benakku, andai saja pilihan
pertamaku adalah SMPN 206 yang aku idamkan kala itu, hmm semua telah terjadi,
mungkin memang ini jalanku, aku tak mungkin dapat mengulang waktu dan merubah
semuanya, yang seharusnya aku lakukan adalah mensyukuri apa yang telah aku
raih.
***
ku udah baca semua postingan kamu, overall ceritanya bagus.
BalasHapustapi coba lebih fokus sama isi ceritanya, biar klop sama judulnya.
*keep writing and correct with heart
#ditungguyanglainnya
ok sip kk,,heheh makasih atas masukannya,,
BalasHapuswoowww...siipp lanjutkan...tulis mengenai taekwondonya juga donk aditt''
BalasHapusoke,, makasih atas semua masukannya,,heheh
BalasHapus