Daftar Blog Saya

Minggu, 04 Desember 2011

Bodoh itu bukan bodoh #2


Aku takut untuk bergerak dan takut untuk berdiam
Merasakan fikiranku terpecah dua dan keduanya menusuk bersamaan
Saat tak ada jalan lagi yang bias kutelusuri
Keyakinan diri menjadi kunci.
Bukan aku yang tersesat
Dan bukan dia atau mereka yang tersesat
Kita semua tersesat dijalan masing-masing,
Jalan yang kita pilih sendiri
Yang akan mengeluarkan kita di depan pintu yang tak kita duga.


Setalah kejadian yang tidak akan bisa kulupakan itu, yang membawaku hingga sekarang berada di bangku kelas dua sekolah dasar. Aku tumbuh menjadi anak yang nakal, banyak teman-temanku yang tidak menyukaiku, dengan alasan aku adalah orang yang suka berkelahi, dan tidak aku pungkiri aku memang suka berkelahi ketika itu, dengan meniru-nirukan The Rock (tokoh gulat yang aku idolakan). Tak sedikit orang tua dari teman-teman yang aku isengi menegur orang tuaku, hingga aku merasa sangat bersalah telah mencemarkan nama baik keluargaku sendiri, dari mulai saat itu aku berfikir bagaimana caranya agar aku bisa tetap berkelahi tetapi tidak merugikan orang lain.
Entah darimana datangnya pemikiran itu aku mendapatkan trobosan untuk diriku sendiri, aku ingat bahwa ada yang dinamakan seni bela diri, bukankah disana aku bias berkelahi sepuasku, dan tak akan mungkin ada yang memarahiku. niatan itu aku tunda, karena di daerah Kalimantan tempat aku tinggal dulu tidak ada tempat atau kumpulan orang yang belajar beladiri, ya mau tidak mau aku menahan ambisiku itu.
Setelah lulus kelas dua SD, ternyata ayahku dipindah tugaskan ke Jakarta, dan akupun meninggalkan Kalimantan, sungguh sangat berat meninggalkan semua kenanganku, kenangan yang membuat aku berdiri setelah melewati kegagalan dan keberhasilan selama ini, dan lagi disana ada wanita yang aku sukai, Tikah namanya, aku sering memanggilnya kak Tikah (karna dia lebih tua dariku), lucu memang jika mengingat perasaan yang aneh ketika kita masih sangat tidak pantas merasakannya, dia anak dari guru mengajiku, tapi sayangnya hingga sekarang aku tak pernah tau lagi tentang dia,” kira-kira dia seperti apa ya sekarang?, apa dia masih ingat dengan anak kecil bodoh yang selalu ingin bermain masak-masakan dengan dia” hehe J.
          Aku meninggalkan Kalimantan dengan melewati jalur air, kapal besar bertuliskan Fery  dengan cerobong-cerobong asap yang kokoh menjemput kami semua yang berada di tongkang yang masih di daerah Pontianak. Selama tiga hari tiga malam aku berada di dalam kapal itu, setiap sudut hampir aku pernah masuki, semua orang sibuk dengan urusannya masing-masing,       ada yang terbaring dengan kantung muntah disampingnya, ada juga yang terlihat terbiasa berada di atas besi-besi yang mengapung di laut ini, beberapa kali aku mengalami mual selama perjalanan di kapal itu, setidaknya aku lebih baik dari ibuku yang terlihat sangat tidak enak badan. Setelah malam ketiga, orang-orangpun semakin sibuk membereskan barang-barang bawaan mereka, ternyata kapal itu sudah hampir sampai dengan tugas yang sukses yaitu membawa kami dengan selamat menuju Jakarta, aku melongok dari jendela kapal yang bulat itu, aku melihat begitu indahnya gemerlap lampu yang bermacam warnanya, “apakah ini adalah Jakarta yang metropolitan itu?”, tak menyangka aku bias kembali ke kota (aku terlahir di kota tangerang, saat usiaku 3 tahun, aku mendiami Kalimantan karena ayahku dipindah tugaskan).
Selama di Jakarta, aku tinggal di rumah nenek dari ayahku, daerah itu bernama Rajeg di Daun kabupaten Tangerang. Disana sangat kental dengan bahasa sunda, setelah aku tinggal disana aku melanjutkan sekolahku disana, seperti biasa aku mendapat bangku belakang yang nampak terasa jauh bila memandang ke depan, selama bersekolah disana aku mengalami kesulitan memahami apa yang dijelaskan oleh guruku, bukan karena aku duduk dibelakang atau karena aku bodoh, melainkan karena guruku di kelas itu selalu menjelaskan hampir semua mata pelajaran dengan bahasa Sunda, ya sudah bisa ditebak, bahwa aku tidak bisa memahami pelajaran karena aku tidak mengerti bahasa Sunda, karena sejak kecil aku berada di Kalimantan, yang mayoritas menggunakan bahasa melayu (Malaysia).
Meski aku tidak dapat memahami secara penuh pelajaranku di kelas tiga itu, aku masih bisa membaca buku dan berusaha memahami pelajaran itu sendirian, tak mudah melakukan itu di usiaku yang masih tujuh tahun, seharusnya aku melakukan metode belajar ini setelah aku duduk di bangku kuliah. Walau dengan seperti itu syukurnya aku masih bisa mengikuti pelajaran walau dengan tersendat-sendat, aku seperti orang yang sangat bodoh disana, aku tidak dapat bergaul dengan semua teman-teman sekelasku karena hanya beberapa dari temanku yang menguasai bahasa Indonesia.
Sudah setahun aku berada disana, akhirnya tiba saat kenaikan kelas. Aku begitu resah menunggu buku bersampul merahku diberikan kepada omku (orang tuaku tidak tinggal bersamaku ketika aku berada dirumah nenek, aku diasuh oleh keempat adik dari ayahku dan kedua orangtua ayahku). Dengan bahasa yang tidak aku mengerti rapor itupun sampai ke tangan omku melalui tangan guruku, tak terasa aku menelan ludah dengan sangat memaksa sambil memperhatikan raporku, tetapi pemikiranku salah, aku naik ke kelas empat meski  dengan nilai yang biasa saja, aku merasa seperti melepas rambutku setelah mengetahui hasil raporku, ternyata mimpi buruk itu tak benar-benar terjadi (aku pernah bermimpi tidak naik kelas sebelum-sebelumnya).
Aku merasa sudah tidak dapat melanjutkan sekolahku di sekolah itu, mendengar keluhanku, orangtuaku lalu memindahkan aku ke rumah nenek dari ibuku di daerah Perumnas 1 kabupaten Tangerang tempat aku dilahirkan (aku dilahirkan di rumah sakit harapan ibu yang tak jauh dari gang rumah nenek dari ibuku). Disana aku tinggal bersama Pakde Pandi (kakak dari ibuku), Bude Ika (istri dari Pakde Pandi), Andrie, Ricky dan Fierda (anak dari pakde Pandi yang otomatis adalah sepupu-sepupuku), serta nenekku pastinya.
Beberapa hari aku menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru lagi dalam hidupku, kali ini lebih terasa mudah, karena aku mengerti apa yang mereka katakana. Setelah hari-hari penyesuaian diriku, akupun diajak oleh ayahku berkeliling tak jauh dari rumah nenekku, aku diperlihatkan dan disuruh memilih sekolah mana yang akan aku pilih, tak jauh dari rumah nenekku  memang ada beberapa  sekolah dasar, dan pilihanku tertuju pada SDN Karawaci Baru 4, pertama aku melihat sekolah itu, yang terlintas didalam benakku hanyalah bangunannya yang bagus dan bertingkat, tak pernah sebelumnya aku memimpikan bisa bersekolah di sekolah yang bagus, apa lagi bertingkat hehe.. ayahkupun menyetujui pilihanku itu dan langsung menyudahi perjalan kami dan langsung menuju pulang ke rumah nenek melewati pasar Malabar.
Setelah dua hari berselang setelah perencanaan yang matang tentang sekolahku, akupun resmi menjadi siswa SDN Karawaci Baru 4, tetapi ada yang aneh disini, aku diajak masuk ke ruang kelas yang diatas pintunya bertuliskan Kelas III, “kenapa aku masuk di kelas tiga?, bukannya aku sudah resmi naik ke kelas empat ketika masih bersekolah di rajeg”,tanpa mengeluarkan apa yang ada di fikiranku, aku mengikuti semua yang diperintahkan oleh guru baruku itu, dan seperti hal yang mungkin menjadi tradisi dalam hidupku, aku selalu duduk dibelakang, entah apa maksud kebiasaanku itu, tetapi aku merasa nyaman duduk di bangku paling belakang, meski tubuhku tak setinggi teman-temanku yang lain. Setelah pulang kerumah, aku mendapat alasan mengapa aku duduk lagi dibangku kelas tiga dari orangtuaku, mereka sepakat untuk menurunkan aku dari kelas empat kembali ke kelas tiga, ada beberapa hal yang masuk akal yang menjadi alasannya, pengetahuanku di kelas tiga sebelumnya dinilai kurang efektif, karena aku tidak menguasai semua pelajaran-pelajaran dasar di kelas tiga, dan lagi waktu itu umur menjadi faktor penting untuk meneruskan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Alas an itu aku terima dengan masuk akal, akupun memulai lembaran baru dengan duduk di kelas tiga sekolah dasar SDN Kabar 4 Tangerang.
Seiring dengan bertambahnya usiaku, aku tumbuh menjadi anak yang pemalas, tetapi bukan karena aku tidak memikirkan masa depanku dibalik kemalasanku, tek pernah sedikitpun aku menyentuh buku pelajaran saat aku dirumah nenekku, sangat jauh berbeda dengan ketiga sepupuku, dimulai dari situlah kata-kata bodoh selalu digambarkan orang-orang ketika melihatku, perasaan sedih memang selalu ada dibenakku, namun aku sangat sulit untuk berubah, karena ini adalah caraku, untuk apa aku berpura-pura rajin hanya untuk membuat orang menilaiku sebagai orang yang pintar, aku tidak mau membohongi diriku sendiri. Lama kelamaan aku merasa terbiasa dengan kata-kata bodoh melekat dalam diriku, aku acuhkan orang-orang yang menilaiku hanya dari tampilan dan sifatku, seandainya mereka tau apa yang ada didalam fikiranku tentang bagaimana caraku membawa diriku sendiri, mungkin mereka akan sedikit mengerti tentang diriku.
Andai saja mereka semua tau prinsif hidupku, sudah sejak kecil aku memiliki prinsip hidupku sendiri, mungkin itu yang menjadikan aku selalu berbeda dengan teman-teman seusiaku. Perinsip-prinsip hidupku itu sangat aneh, entah darimana datangnya, dan salah satu contohnya adalah caraku belajar, itu yang membuat aku menyandang predikat bodoh dimata orang-orang yang mengenalku. Aku memiliki prinsip hidupku sendiri, didalam memandang cara belajar aku lebih memilih untuk harus selalu mengerti apa yang dikatakan dan dijelaskan oleh bapak dan ibu guruku dikelas, bagiku belajar itu adalah di sekolah, dan bagiku di luar sekolah adalah tempat bagiku menjalani hari-hariku sebagai seseorang yang mencari jati diri dan bermacam pengalaman yang belum pernah aku dapatkan, yang mungkin aku juga tidak akan mendapatkannya di sekolah. Jadi mau tidak mau aku harus mengerti apa yang dijelaskan guruku di sekolah, tetapi pemikiran orang sangat berbeda, predikat malas dan bodoh tetap saja menghantuiku.
Sangat berbeda dengan ketiga sepupuku bahkan dengan teman-temanku di kelas, aku tumbuh menjadi sangat pemalas, jarang sekali aku mengerjakan PR yang aku rasa aku sudah mengerti, dan lebih parah lagi, aku benar-benar tak pernah membuka bukuku sama sekali di rumah, belum lagi kebiasaan buruku tentang berkelahi sering kali muncul ketika melihat teman sekelasku yang kuanggap  tak sepaham denganku, itu yang menjadikan aku anak yang disegani oleh teman-temanku kala itu, bukan karena prestasiku, melainkan karena kenakalanku, tentusaja itu semakin mempererat predikat bodoh didalam diriku. Hanya ada satu teman yang ku anggap sangat mengerti aku, Karsa Adhiguna namanya, dan biasa dipanggil karsa. Dia anak yang cerdas, semua guru menyukainya, belum lagi kepolosannya menambah rasa penasaran bagi orang yang melihatnya, dan kurasa aku telah bersahabat dengannya kala itu.
Di rumah nenekku itu akhirnya aku mewujudkan ambisiku tentang seni beladiri, aku bertanya dan mencari kesana-kemari tentang sekumpulan orang yang berlatih beladiri, tak perduli apa namanya, darimana asalnya dan apa alirannya. Akhirnya aku menemukan tempat berlatih beladiri itu, tepatnya di sekolah Islamic Center, dan ternyata tempat itu adalah di sebelah sekolahku. Keesokan harinya aku datang ketempat itu, dan bertanya banyak tentang bela diri itu pada seorang pelatih yang mengenakan seragam beladiri putih dan terikat sabuk berwarna hitam di pinggangnya, Jumady namanya, dan biasa dipanggil Sabeum Jumady (sabeum adalah panggilan kepada seorang guru yang mengenakan sabuk merah atau hitam di Tae-Kwon-Do), lalu aku mengetahui bahwa bela diri yang aku lihat itu adalah Tae-Kwon-Do, tanpa berfikir panjang akupun memutuskan untuk bergabung dengan beladiri Tae-Kwon-Do.




***

2 komentar: