Aku takut untuk bergerak dan takut untuk berdiam
Merasakan fikiranku terpecah dua dan keduanya
menusuk bersamaan
Saat tak ada jalan lagi yang bias kutelusuri
Keyakinan diri menjadi kunci.
Bukan aku yang tersesat
Dan bukan dia atau mereka yang tersesat
Kita semua tersesat dijalan masing-masing,
Jalan yang kita pilih sendiri
Yang akan mengeluarkan kita di depan pintu yang tak
kita duga.
Setalah
kejadian yang tidak akan bisa kulupakan itu, yang membawaku hingga sekarang
berada di bangku kelas dua sekolah dasar. Aku tumbuh menjadi anak yang nakal,
banyak teman-temanku yang tidak menyukaiku, dengan alasan aku adalah orang yang
suka berkelahi, dan tidak aku pungkiri aku memang suka berkelahi ketika itu,
dengan meniru-nirukan The Rock (tokoh
gulat yang aku idolakan). Tak sedikit orang tua dari teman-teman yang aku
isengi menegur orang tuaku, hingga aku merasa sangat bersalah telah mencemarkan
nama baik keluargaku sendiri, dari mulai saat itu aku berfikir bagaimana
caranya agar aku bisa tetap berkelahi tetapi tidak merugikan orang lain.
Entah darimana
datangnya pemikiran itu aku mendapatkan trobosan untuk diriku sendiri, aku
ingat bahwa ada yang dinamakan seni bela diri, bukankah disana aku bias
berkelahi sepuasku, dan tak akan mungkin ada yang memarahiku. niatan itu aku
tunda, karena di daerah Kalimantan tempat aku tinggal dulu tidak ada tempat
atau kumpulan orang yang belajar beladiri, ya mau tidak mau aku menahan
ambisiku itu.
Setelah lulus
kelas dua SD, ternyata ayahku dipindah tugaskan ke Jakarta, dan akupun
meninggalkan Kalimantan, sungguh sangat berat meninggalkan semua kenanganku,
kenangan yang membuat aku berdiri setelah melewati kegagalan dan keberhasilan
selama ini, dan lagi disana ada wanita yang aku sukai, Tikah namanya, aku sering memanggilnya kak Tikah (karna dia lebih tua dariku), lucu memang jika mengingat
perasaan yang aneh ketika kita masih sangat tidak pantas merasakannya, dia anak
dari guru mengajiku, tapi sayangnya hingga
sekarang aku tak pernah tau lagi tentang dia,” kira-kira dia seperti apa ya
sekarang?, apa dia masih ingat dengan anak kecil bodoh yang selalu ingin
bermain masak-masakan dengan dia” hehe J.
Aku meninggalkan Kalimantan dengan
melewati jalur air, kapal besar bertuliskan Fery dengan cerobong-cerobong asap yang kokoh
menjemput kami semua yang berada di tongkang
yang masih di daerah Pontianak. Selama tiga hari tiga malam aku berada di dalam
kapal itu, setiap sudut hampir aku pernah masuki, semua orang sibuk dengan
urusannya masing-masing, ada yang
terbaring dengan kantung muntah disampingnya, ada juga yang terlihat terbiasa
berada di atas besi-besi yang mengapung di laut ini, beberapa kali aku
mengalami mual selama perjalanan di kapal itu, setidaknya aku lebih baik dari
ibuku yang terlihat sangat tidak enak badan. Setelah malam ketiga,
orang-orangpun semakin sibuk membereskan barang-barang bawaan mereka, ternyata
kapal itu sudah hampir sampai dengan tugas yang sukses yaitu membawa kami
dengan selamat menuju Jakarta, aku melongok dari jendela kapal yang bulat itu,
aku melihat begitu indahnya gemerlap lampu yang bermacam warnanya, “apakah ini
adalah Jakarta yang metropolitan itu?”, tak menyangka aku bias kembali ke kota
(aku terlahir di kota tangerang, saat usiaku 3 tahun, aku mendiami Kalimantan
karena ayahku dipindah tugaskan).
Selama di
Jakarta, aku tinggal di rumah nenek dari ayahku, daerah itu bernama Rajeg di Daun kabupaten Tangerang.
Disana sangat kental dengan bahasa sunda, setelah aku tinggal disana aku
melanjutkan sekolahku disana, seperti biasa aku mendapat bangku belakang yang
nampak terasa jauh bila memandang ke depan, selama bersekolah disana aku
mengalami kesulitan memahami apa yang dijelaskan oleh guruku, bukan karena aku
duduk dibelakang atau karena aku bodoh, melainkan karena guruku di kelas itu
selalu menjelaskan hampir semua mata pelajaran dengan bahasa Sunda, ya sudah
bisa ditebak, bahwa aku tidak bisa memahami pelajaran karena aku tidak mengerti
bahasa Sunda, karena sejak kecil aku berada di Kalimantan, yang mayoritas
menggunakan bahasa melayu (Malaysia).
Meski aku tidak
dapat memahami secara penuh pelajaranku di kelas tiga itu, aku masih bisa
membaca buku dan berusaha memahami pelajaran itu sendirian, tak mudah melakukan
itu di usiaku yang masih tujuh tahun, seharusnya aku melakukan metode belajar
ini setelah aku duduk di bangku kuliah. Walau dengan seperti itu syukurnya aku
masih bisa mengikuti pelajaran walau dengan tersendat-sendat, aku seperti orang
yang sangat bodoh disana, aku tidak dapat bergaul dengan semua teman-teman
sekelasku karena hanya beberapa dari temanku yang menguasai bahasa Indonesia.
Sudah setahun
aku berada disana, akhirnya tiba saat kenaikan kelas. Aku begitu resah menunggu
buku bersampul merahku diberikan kepada omku (orang tuaku tidak tinggal
bersamaku ketika aku berada dirumah nenek, aku diasuh oleh keempat adik dari ayahku
dan kedua orangtua ayahku). Dengan bahasa yang tidak aku mengerti rapor itupun
sampai ke tangan omku melalui tangan guruku, tak terasa aku menelan ludah
dengan sangat memaksa sambil memperhatikan raporku, tetapi pemikiranku salah,
aku naik ke kelas empat meski dengan
nilai yang biasa saja, aku merasa seperti melepas rambutku setelah mengetahui
hasil raporku, ternyata mimpi buruk itu tak benar-benar terjadi (aku pernah
bermimpi tidak naik kelas sebelum-sebelumnya).
Aku merasa
sudah tidak dapat melanjutkan sekolahku di sekolah itu, mendengar keluhanku,
orangtuaku lalu memindahkan aku ke rumah nenek dari ibuku di daerah Perumnas 1 kabupaten Tangerang tempat
aku dilahirkan (aku dilahirkan di rumah sakit harapan ibu yang tak jauh dari
gang rumah nenek dari ibuku). Disana aku tinggal bersama Pakde Pandi (kakak
dari ibuku), Bude Ika (istri dari Pakde Pandi), Andrie, Ricky dan Fierda (anak
dari pakde Pandi yang otomatis adalah sepupu-sepupuku), serta nenekku pastinya.
Beberapa hari
aku menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru lagi dalam hidupku, kali ini
lebih terasa mudah, karena aku mengerti apa yang mereka katakana. Setelah
hari-hari penyesuaian diriku, akupun diajak oleh ayahku berkeliling tak jauh
dari rumah nenekku, aku diperlihatkan dan disuruh memilih sekolah mana yang
akan aku pilih, tak jauh dari rumah nenekku
memang ada beberapa sekolah
dasar, dan pilihanku tertuju pada SDN Karawaci Baru 4, pertama aku melihat
sekolah itu, yang terlintas didalam benakku hanyalah bangunannya yang bagus dan
bertingkat, tak pernah sebelumnya aku memimpikan bisa bersekolah di sekolah
yang bagus, apa lagi bertingkat hehe.. ayahkupun menyetujui pilihanku itu dan
langsung menyudahi perjalan kami dan langsung menuju pulang ke rumah nenek
melewati pasar Malabar.
Setelah dua
hari berselang setelah perencanaan yang matang tentang sekolahku, akupun resmi
menjadi siswa SDN Karawaci Baru 4, tetapi ada yang aneh disini, aku diajak
masuk ke ruang kelas yang diatas pintunya bertuliskan Kelas III, “kenapa aku masuk di kelas tiga?, bukannya aku sudah
resmi naik ke kelas empat ketika masih bersekolah di rajeg”,tanpa mengeluarkan apa yang ada di fikiranku, aku mengikuti
semua yang diperintahkan oleh guru baruku itu, dan seperti hal yang mungkin
menjadi tradisi dalam hidupku, aku selalu duduk dibelakang, entah apa maksud
kebiasaanku itu, tetapi aku merasa nyaman duduk di bangku paling belakang,
meski tubuhku tak setinggi teman-temanku yang lain. Setelah pulang kerumah, aku
mendapat alasan mengapa aku duduk lagi dibangku kelas tiga dari orangtuaku,
mereka sepakat untuk menurunkan aku dari kelas empat kembali ke kelas tiga, ada
beberapa hal yang masuk akal yang menjadi alasannya, pengetahuanku di kelas
tiga sebelumnya dinilai kurang efektif, karena aku tidak menguasai semua
pelajaran-pelajaran dasar di kelas tiga, dan lagi waktu itu umur menjadi faktor
penting untuk meneruskan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Alas an itu aku
terima dengan masuk akal, akupun memulai lembaran baru dengan duduk di kelas
tiga sekolah dasar SDN Kabar 4 Tangerang.
Seiring dengan
bertambahnya usiaku, aku tumbuh menjadi anak yang pemalas, tetapi bukan karena
aku tidak memikirkan masa depanku dibalik kemalasanku, tek pernah sedikitpun
aku menyentuh buku pelajaran saat aku dirumah nenekku, sangat jauh berbeda
dengan ketiga sepupuku, dimulai dari situlah kata-kata bodoh selalu digambarkan
orang-orang ketika melihatku, perasaan sedih memang selalu ada dibenakku, namun
aku sangat sulit untuk berubah, karena ini adalah caraku, untuk apa aku
berpura-pura rajin hanya untuk membuat orang menilaiku sebagai orang yang
pintar, aku tidak mau membohongi diriku sendiri. Lama kelamaan aku merasa
terbiasa dengan kata-kata bodoh melekat dalam diriku, aku acuhkan orang-orang
yang menilaiku hanya dari tampilan dan sifatku, seandainya mereka tau apa yang
ada didalam fikiranku tentang bagaimana caraku membawa diriku sendiri, mungkin
mereka akan sedikit mengerti tentang diriku.
Andai saja
mereka semua tau prinsif hidupku, sudah sejak kecil aku memiliki prinsip
hidupku sendiri, mungkin itu yang menjadikan aku selalu berbeda dengan
teman-teman seusiaku. Perinsip-prinsip hidupku itu sangat aneh, entah darimana
datangnya, dan salah satu contohnya adalah caraku belajar, itu yang membuat aku
menyandang predikat bodoh dimata orang-orang yang mengenalku. Aku memiliki prinsip
hidupku sendiri, didalam memandang cara belajar aku lebih memilih untuk harus
selalu mengerti apa yang dikatakan dan dijelaskan oleh bapak dan ibu guruku
dikelas, bagiku belajar itu adalah di sekolah, dan bagiku di luar sekolah
adalah tempat bagiku menjalani hari-hariku sebagai seseorang yang mencari jati
diri dan bermacam pengalaman yang belum pernah aku dapatkan, yang mungkin aku
juga tidak akan mendapatkannya di sekolah. Jadi mau tidak mau aku harus
mengerti apa yang dijelaskan guruku di sekolah, tetapi pemikiran orang sangat
berbeda, predikat malas dan bodoh tetap saja menghantuiku.
Sangat berbeda
dengan ketiga sepupuku bahkan dengan teman-temanku di kelas, aku tumbuh menjadi
sangat pemalas, jarang sekali aku mengerjakan PR yang aku rasa aku sudah mengerti,
dan lebih parah lagi, aku benar-benar tak pernah membuka bukuku sama sekali di
rumah, belum lagi kebiasaan buruku tentang berkelahi sering kali muncul ketika
melihat teman sekelasku yang kuanggap
tak sepaham denganku, itu yang menjadikan aku anak yang disegani oleh
teman-temanku kala itu, bukan karena prestasiku, melainkan karena kenakalanku,
tentusaja itu semakin mempererat predikat bodoh didalam diriku. Hanya ada satu
teman yang ku anggap sangat mengerti aku, Karsa
Adhiguna namanya, dan biasa dipanggil karsa. Dia anak yang cerdas, semua
guru menyukainya, belum lagi kepolosannya menambah rasa penasaran bagi orang
yang melihatnya, dan kurasa aku telah bersahabat dengannya kala itu.
Di rumah
nenekku itu akhirnya aku mewujudkan ambisiku tentang seni beladiri, aku
bertanya dan mencari kesana-kemari tentang sekumpulan orang yang berlatih
beladiri, tak perduli apa namanya, darimana asalnya dan apa alirannya. Akhirnya
aku menemukan tempat berlatih beladiri itu, tepatnya di sekolah Islamic Center, dan ternyata tempat itu
adalah di sebelah sekolahku. Keesokan harinya aku datang ketempat itu, dan
bertanya banyak tentang bela diri itu pada seorang pelatih yang mengenakan
seragam beladiri putih dan terikat sabuk berwarna hitam di pinggangnya, Jumady namanya, dan biasa dipanggil Sabeum Jumady (sabeum adalah panggilan
kepada seorang guru yang mengenakan sabuk merah atau hitam di Tae-Kwon-Do), lalu
aku mengetahui bahwa bela diri yang aku lihat itu adalah Tae-Kwon-Do, tanpa
berfikir panjang akupun memutuskan untuk bergabung dengan beladiri Tae-Kwon-Do.
***
itu buat art*s ye...hahaahaha...keren tep...hahah
BalasHapussuper sekali !!!!!
BalasHapus